Kamis, 30 April 2009

BAGAIMANA KONSEP MEMBANGUN

BANDARA DAN PELABUHAN LAUT

Pendahuluan

Pelabuhan laut dan bandar udara adalah suatu public area yang berfungsi multi guna bagi masyarakat atau stake holder yang mempergunakannya. Suatu tempat yang memang dirancang dan diperuntukkan bagi kegiatan kedatangan dan pemberangkatan, dengan berbagai ragam bentuk dan design tergantung dari kemauan perancang dan pemiliknya. Kontak yang saya bicarakan adalah mengenai pelabuhan laut dan bandar udara yang ada di Indonesia. Kenapa ? Karena saya dan anda adalah salah satu stakeholdernya. Lihatlah keberadaan pelabuhan laut bandar udara kita, yang design dan layoutnya kurang tertata dan direncanakan dengan baik dan centang prenang kondisinya. Di Kota Tanjungpinang space laut kita tertutup oleh tinggi dan besarnya bangunan, kenapa. Karena pembangunan gedung utamanya dibuat ditengah laut. Bagaimana pemikiran para pembuat kebijakan itu dalam menggagas pembuatan pelabuhan laut kita kemarin. Lagi-lagi kebijakan yang dibuat tidak berdasarkan pemikiran kedepan dan jangka panjang.

Anda tentu pernah mempergunakan atau berada di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng Jakarta sebagai bandara terbesar dan terbaik di Indonesia dan baik dalam kunjungan ke Jakarta atau hanya sekedar transit untuk menunuju kota lainnya. Bagaimana kesan yang ada pada pikiran dan benak kita melihat realitas kondisi Bandara Soekarno Hatta sekarang. Pada tahun 1985an pada saat Bandara tersebut pertama kali di bangun dan dipergunakan saya amat terkagum-kagum mendengar ”puji-pujian” yang dilontarkan para wartawan di media masaa maupun televisi tentang design dan konsepnya apalagi setelah saya hadir dan mempergunakan jasa Bandara tersebut untuk keperluan bepergian saya. Sungguh apik, asri dan mondern dengan bentuk bangunan rumah Joglonya, penataan taman, konstruksinya yang amat bagus dan artistik. Ada ciri khas yang ditampilkan dan bernuansa sangat ”Indonesia”, tak heran dalam hatipun saya amat memuji keindahan dan ”keelokanya”. Ini wajar karena kondisi bandara tersebut sangat berbeda jauh dengan kondisi bandara Kemayoran dahulu yang sudah terkesan sempit, pengap, tradisional dan tidak artistik dan berestitika. Tapi setelah 20 tahun kemudian kondisi Bandara Soekarno Hatta sudah sangat berbeda dengan kondisinya pada saat pertama kali berdiri. Toiletnya sudah banyak yang tidak terawat, ada air selalu tergenang, baunya yang kadang menyengat, banyak keramiknya yang sduah kusam. Pohon-pohon yang ada pada taman-taman setiap ruang tunggu keberangkatan yang tidak tertata dengan apik dan artistik, kios-kios dagangan dan restoran baik dikoridor Bandara Soekarno Hatta luar sebelum kita check in maupun didalam ruangan check in dan sepanjang koridor menuju ruang tunggu keberangkatan kondisinya tidak tertata dengan baik dan menimbulkan kesan kumuh dan tidak manusiawi, Acnya banyak sudah tidak dingin apalagi pada terminal 1, escalatornya yang sudah ketinggalan tekhnologinya dan juga conveyor ditempat pengambilan barang yang ”slow moving” (karena ketinggalan tekhonologi) sehingga melambatkan pergerakan barang-barang bagasi penumpang yang akan diambil. Yang paling membikin kesan kacaunya kondisi Bandara Soekarno Hatta adalah banyaknya calo-calo dan supir taksi (plat kuning dan hitam) yang berebutan menawarkan jasanya kepada calon penumpang juga yang paling unik adalnya ojek yang beroprasi di kawasan bandara internasional tersebut (satu-satunya didunia). Kesan tidak reprsentatifnya Bandara Soekarno Hatta akan bertambah lagi jika kita telah pernah berkunjung keluar negeri seperti ke Bandara Changi Singapura, Bandara KLIA Malaysia, Bandara Hongkong, atau mana-mana Bandara luar negeri lainnya. Jika kita amati ternyata banyak konsep dan pengaturan yang salah yang telah kita lakukan pada Bandar Udara dan pelabuhan laut kita di negeri Indonesia tercinta ini.

Konsep Salah pada design dan pengaturan Bandara

Alangkah nikmatnya mempergunakan jasa bandara yang ada diluar negeri, ada rasa aman, nyaman, lega dan tentulah kagum melihat kondisi bandara negara orang. Ternyata mata dan hati saya jadi terbuka melihat bagaimana seharusnya konsep, design, layout dan pengaturan yang seharusnya dibuat dan dilakukan untuk efisiensi, kecepatan, kenyamanan, keamanan dan kepuasan pengguna bandara. Lalu jika memang rajin berpikir dan menganalisa tentu pikiran dan bayangan kita akan selalu membnadingkan dengan keadaan Bandara kita terutama Bandara Soekarno Hatta sebagai Bandara nomor 1 di Indonesia.

a. Design dan Layout

Bandara Soekarno Hatta terdiri atas 2 terminal yaitu Terminal 1 dan Terminal 2, masing-masing terminal terdiri atas sub terminal umpama Terminal 2 F dan lain sebagainya. Konsep dan design yang dilakukan untuk pengaturan penumpang dibuat antara yang datang dan berangkat berbeda jalan dan ruangannya permasing-masing subbagian terminal tersebut. Akibatnya Bandara Soekarno Hatta banyak mempergunakan space (ruang) juga perlu banyak awak darat yang akan bekerja menangani ruangan yang besar dan luas.

Jika ruangannya banyak, akan timbul cost yang tinggi untuk membangun (investasi gedung dan tanah) dan merawat bangunan, pemakaian AC (jumlah dan biaya perawatan dan biaya listrik jadi besar) yang banyak dan berbiaya besar. Banyak petugas yang bekerja pada ruangan yang berbeda akan juga menimbulkan high cost (ekonomi berbiaya tinggi) karena pihak pengelola harus membayar dengan jumlah yang besar sesuai jumlah karyawan. Maka itu kita lihat kondisi Bandara Soekarno Hatta kurang terawat karena besarnya biaya yang harus dikeluarkan oleh pihak pengelola. Jika biaya besar, berarti terjadi en-efisiensi pada semua lini, pihak operator penerbangan harus membayar sewa lebih kepada pihak pengelola Bandara Soekarno Hatta. So, akibatnya tentu atas beban cost yang tinggi yang harus dibayar pihak operator penerbangan, pengusaha yang menyewa kios, toko, restoran dan pemakai jasa ruangan lainya tentu akan berdampak pada hitung-hitungan cost yang harus dibebankan pada produk mereka. Kelanjutanya tentu pada harga yang harus kita bayar sebagai konsumen pemakai jasa Bandara Soekarno Hatta. Harga tiket pesawat, harga makanan, harga barang-barang lain yang kita konsumsi akan jadi “sedikit lebih mahal” dari harga yang seharusnya kita bayar. Efeknya akan jadi menjadi berantai, perusahaan, kantor pemerintah atau kita secara pribadi membayar ongkos keberangkatan kita terpaksa harus mengeluarkan jumlah uang yang “sedikit lebih mahal” dan ini akan berdampak seperti efek domino. Masing-masing akan berhitung lain (tidak mau jadi rugi karena biayanya besar). Bandingkan dengan kondisi Bandara di luar negeri seperti Changi Singapore, KLIA Malaysia, Bandara Hongkong, Canada, Australian dan Bandara luar negeri lainnya.

Mereka juga mengenal sistem pembagian terminal seperti kita dengan subbagian terminal. Tetapi pengaturan toko-toko, kios yang berjualan, pengaturan petugas yang bekerja, space ruangan yang sangat terbuka.

Bandara Changi Singapore, KLIA Malaysia, Bandara Hongkong, Canada, Australian dan Bandara luar negeri lainnya (Bandara Baru seprti KLIA Kuala Lumpur, Bandara Hongkong dan Bandara Zuhai China konsepnya hampir sama (dan saya yakin internasional luar negeri yang lain juga sama) konsepnya sama yaitu terletak pada konsep efisiensi, kemudahan, kenyamanan, keamanan dengan tetap memperhatikan keindahan dan estitika. Counter checkin dan ruang terminal yang nyaman dan indah dengan view yang luas dan terbuka (design Bandara KLIA Kuala Lumpur, Changi dan Bandara Hongkong yang baru sama) sehingga mencerminkan kelapangan sudut pandang tanpa ada halangan pada mata dan ruang. Ruang keberangkatan yang sangat luas dengan pencarian counter check in yang diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan para penumpang mencari counter yang dicari, counter informasi yang sangat mudah dicari dan sangat gampang diakses.

Penumpang yang datang (arrival) dan berangkat (departure) berada dalam satu jalan, koridor atau lorong yang sama yang membedakan masing-masing punya jalan sendiri atau tempat laluan sendiri. Artinya 1 jalan tetapi dibagi 2 arus (keberangakatan dan kedatangan) dengan masing-masing kemudahan yang sama. Bandingkan konsep ini dengan kondisi dan aplikasi yang terjadi di Bandara Internasioanal Indonesia (Soekarno Hatta Cengkareng, Juanda Surabaya, Hang Nadim Batam, Denpasar Bali).

b. Kenyamanan dan keamanan

Kesan pertama kali kala kita menginjakan kaki pertama kali di Bandara adalah ketidak teraturan pengaturan parkir, taman-taman landscape yang tidak terawat, porter dan orang-orang yang bekerumun. Hal ini akan menimbulkan image negatif di benak dan pikiran kita, bahwa inilah gambaran sosok ideal sebuah Bandara. Mobil yang diparkir tidak karuan (centang prenang dan seenaknya) sehingga mengganggu keleluasaan lalu lintas, poros bentangan jalan yang sempit.

Jika kita baru keluar dari terminal kedatangan image negatif akan segera timbul karena sangat banyak calo taxi dan supir taxi gelap yang bergentayangan menawarkan jasanya. Penjual pulpen, properti lain yang juga menjajakan barang-barangnya kepada kita. Belum lagi ada sepeda motor ojek (khusus Bandara Soekarno Hatta). Mana rasa nyaman dan aman kita berada di Bandara Internasioanal kita. Kondisinya sungguh terbalik, justru kita merasa aman dan nyaman pada saat kita berada di Bandara Changi Singapore, KLIA Malaysia, Bandara Hongkong, Canada, Australian dan Bandara luar negeri lainnya dan merasa tidak aman dan nyaman berada di Bandara dalam negeri

Papan petunjuk arah dan design bangunan yang tidak bagus membuat juga penumpang tidak nyaman dan aman. Kedatangan kita selalu disambut dengan pasukan porter terlebih dahulu. Bagi penumpang yang bukan warga negara Indonesia tentu kesannya sangat tidak baik dan merendahkan kewibawaan dan nama baik Negara kita tercinta.

Konsep Salah pada design dan pengaturan Pelabuhan Laut

Harusnya membangun pelabuhan, gedung pelabuhannya dipantai bukan dilaut, sehingga pandangan dan pengaturan akan menjadi lebih baik dan teratur. Lihatlah Pelabuhan Singapore seperti World Trade Center atau Tanah Merah Ferry Terminal atau Pelabuhan Setulang Laut. Gedung utama pelabuhan tidak dibangun ditengah laut tetapi dibibir pantai, dan pelabuhannya sah-sah saja panjang kelaut. Penataan administrasi, pengaturan keberangkatan dilakukan diatas tanah atau dibangunan utama pelabuhan. Space public terbuka tanpa terhalangi dengan tinggi dan besarnya bangunan. Konsep ini tentu telah dikaji dan dibuatkan perhitungan yang matang oleh si empunya proyek atau gedung. Banyak sisi positip yang akan diperoleh.Toh semua kegiatan dapat dilaksanakan di gedung utama yang terletak di darat bukan dilaut. Kita boleh saja menguruk tanah kelaut sebanyak mungkin untuk membina dan membangun gedung utama untuk kegiatan ketibaan dan keberangkatan penumpang, tetapi laut tetap dibiarkan terbuka agar public area terbuka luas tanpa terhalang oleh gedung yang dibangun ditengah laut. Coba kita coba cari bandingan antara jika membangunm gedung pelabuhan ditengah laut dengan membangun gedung pelabuhan dibibir pantai atau diatas tanah pantai.

Kenapa konsep pembangunan pelabuhan, gedungnya di bangun di laut. Apa alasan yang dibuat, tokh service tak maksimal, manfaatnyapun tak ada. Kita bisa buktikan hal ini dengan melihat kondisi Pelabuhan-pelabuhan laut yang besar di Indonesia seperti Pelabuhan Tanjungpriok di Jakarta, Pelabuhan Tanjungperak Surabaya, Pelabuhan Sekupang Batam dan bandingkan dengan Pelabuhan World Trade Center, Pelabuhan Tanah Marah Ferry Terminal, Pelabuhan Hongkong ke Macau, Pelabuhan Macau dan lain sebagainya. Kesan yang timbul pada setiap pelabuhan laut yang timbul adalah :

  1. Situasinya Keras dan Kasar
  2. Kondisi pelabuhan tidak teratur, kumuh dan jorok
  3. Timbul rasa tidak nyaman dan aman
  4. Jalan untuk masuk ke pemberangkatan dan ketibaan dibuat asal-asalan (tidak ada jalur atau lajur khusus yang diberi batas (2 arah).
  5. Suasana Terminal yang tidak representatif dan fasilitas umum yang tidak terawat dan berada pada kondisi baik.

Penutup

Perlu ada konsep yang mendasari pembuatan Bendara dan pelabuhan laut di Indonesia yang dibuat dengan perencanaan yang matang, berwawasan, integrasi dengan pemikiran komprehensif dan melibatkan stakeholder dengan tetap mempelajari kondisi-kondisi pelabuhan laut luar negeri yang bisa ditiru. Konsep yang dibuat harus bisa mengapresiasikan kondisi 20 tahun atau 10 tahun kedepan, sehingga konsep yang dibuat tidak out of date alias basi.

Jika Bandara dan Pelabuhan Laut yang kita miliki setara atau minimal menyamai konsep dan kondisi Bandara dan Pelabuhan Laut yang ada dirantau orang, banyak sisi positip yang akan kita perolehi. Kita tahu untuk membangun Bandara dan Pelabuhan Laut diperlukan invesasti yang besar dan memerlukan cost/biaya yang besar untuk perawatanya, nach sisi inilah yang patut diperhitungkan dengan matang dan baik. Apapun alasanya toh kita tahu bahwa setiap penumpang dibebankan airport tax seaport tax (pajak pelabuhan udara dan laut) yang tentu pembebannya kepada penumpang telah memperhitungkan untung dan rugi, juga pemebanan uang sewa tempat dan pelayanan lainnya kepada para pemakai jasanya. Sebelum Bandara dan Pelabuhan Laut dibangun sudah ada Analisa Cost and Benefit dalam Feasibility Study yang dibuat. Entahlah jika input yang dimasukan datanya ngawur alias tidak valid sehingga hasilnyapun tetap seperti yang dulu ?!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar