Kamis, 30 April 2009

Bagaimana Bangsa Melayu Menuju Hari Esok ???

( Refleksi Bangsa Indonesia Mengejar Ketertinggalannya)

Pendahuluan

Susah memang membuat penilaian yang normatif tentang kenapa Bangsa Indonesia ini jauh tertinggal dengan bangsa-bangsa lain dipenjuru dunia, apatah lagi setelah kita menghadapi Krisis Moneter pada bulan Juli 1997 yang kemudian berkembang menjadi krisis multidimensial, sehingga kondisi bangsa ini semakin parah. Dibandingkan dengan negara-negara Asean seperti Singapore, Malaysia dan Thailand saja bangsa kita jauh tertinggal, apalagi dengan bangsa lain didunia ini.

Banyak hal yang bisa renungkan dan debatkan untuk menjawab hal ini.

Perbedaan antara negara berkembang (miskin) dan negara maju (kaya) tidak tergantung pada umur negara itu. Contohnya negara India dan Mesir, yang umurnya lebih dari 2000 tahun, tetapi mereka tetap terbelakang (miskin).

Di sisi lain Singapura, Kanada, Australia & New Zealand negara yang umurnya kurang dari 150 tahun dalam membangun, saat ini mereka adalah bagian dari negara maju di dunia, dan penduduknya tidak lagi miskin

Ketersediaan sumber daya alam dari suatu negara juga tidak menjamin negara itu menjadi kaya atau miskin. Jepang mempunyai area yang sangat terbatas. Daratannya, 80% berupa pegunungan dan tidak cukup untuk meningkatkan pertanian & peternakan. Tetapi, saat ini Jepang menjadi raksasa ekonomi nomor dua di dunia. Jepang laksana suatu negara “industri terapung” yang besar sekali, mengimpor bahan baku dari semua negara di dunia dan mengekspor barang jadinya keserata dunia.

Swiss tidak mempunyai perkebunan coklat tetapi sebagai negara pembuat coklat terbaik di dunia. Negara Swiss sangat kecil, hanya 11% daratannya yang bisa ditanami. Swiss juga mengolah susu dengan kualitas terbaik. (Nestle adalah salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia). Swiss juga tidak mempunyai cukup reputasi dalam keamanan, integritas, dan ketertiban tetapi saat ini bank-bank di Swiss menjadi bank yang sangat disukai di dunia.

Para eksekutif dari negara maju yang berkomunikasi dengan temannya dari negara terbelakang akan sependapat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal kecerdasan, ras atau warna kulit juga bukan faktor penting.

Para imigran yang dinyatakan pemalas di negara asalnya ternyata menjadi sumber daya yang sangat produktif di negara-negara maju/kaya di Eropa.

Lalu……. apa perbedaannya?

Perbedaannya adalah pada sikap/perilaku masyarakatnya, yang telah dibentuk sepanjang tahun melalui kebudayaan dan pendidikan.

Berdasarkan analisis atas perilaku masyarakat di negara maju, ternyata bahwa mayoritas penduduknya sehari-harinya mengikuti/mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan sebagai berikut :

Prinsip Dasar Kehidupan

  1. Etika, sebagai prinsip dasar dalam kehidupan sehari-hari
  2. Kejujuran dan integritas
  3. Bertanggung jawab
  4. Hormat pada aturan & hukum masyarakat
  5. Hormat pada hak orang/warga lain
  6. Cinta pada pekerjaan
  7. Berusaha keras untuk menabung & investasi
  8. Mau bekerja keras
  9. Tepat waktu

Di negara terbelakang/miskin/ berkembang, hanya sebagian kecil masyarakatnya mematuhi prinsip dasar kehidupan tersebut

Kita bukan miskin (terbelakang) karena kurang sumber daya alam, atau karena alam yang kejam kepada kita. Kita terbelakang/lemah/miskin karena perilaku kita yang kurang/tidak baik.

Kita kekurangan kemauan untuk mematuhi dan mengajarkan prinsip dasar kehidupan yang akan memungkinkan masyarakat kita pantas membangun masyarakat, ekonomi, dan negara.

Bagaimana Pendidikan di Indonesia

Layak kita simak pernyataan dan pandangan Prof Dr Sofian Effendi, Ketua Program Magister Administrasi Publik Universitas Gadjah Mada (UGM), ketika ditemui di Yogyakarta, Senin 1 Oktober 2001 "Saya kira ini saat yang tepat untuk mulai memperhatikan dengan sungguh-sungguh human development kita. Sekarang ini kita menyadari begitu banyak kesalahan yang kita buat di masa lampau, dan momentum ini jangan sampai disia-siakan untuk memperbarui kebijakan dalam bidang SDM," tambahnya. (Dikutip dari Kompas Kamis, 4 Oktober 2001 Internet Kompas Cybermedia)

"Sekarang ada kira-kira 38,4 juta anak yang terdaftar di SD, sementara yang bisa masuk SLTP hanya 9,4 juta orang, sedangkan sisanya-sekitar 28 juta-tidak pernah mengenyam pendidikan SLTP. Dari jumlah 9,4 juta itu pun hanya 5,6 juta yang bisa meneruskan ke SMU, dan dari 5,6 juta tadi yang bisa meneruskan ke perguruan tinggi hanya 1,6 juta orang," jelas Sofian.

Saat ini terlalu banyak penduduk usia sekolah di Indonesia ini yang tidak mendapat pendidikan seperti yang diharapkan. Lewat broad base policy itu, Sofian melihat, ini merupakan upaya yang mengarah pada peningkatan pendidikan yang sewajarnya, yang pada gilirannya nanti diharapkan mampu meningkatkan kualitas SDM. (Dikutip dari Kompas Kamis, 4 Oktober 2001 Internet Kompas Cybermedia)

Wakil Presiden Hamzah Haz mengakui, masih rendahnya mutu sumberdaya manusia (SDM) Indonesia yang jika tidak segera dibenahi secara bersungguh-sungguh dapat semakin memiskinkan rakyat dan menyulitkan bangsa lepas dari ketergantungan asing. Kenyataan itu diakui Wapres Hamzah Haz dalam sambutan sebelum membuka Temu Ilmiah Mahasiswa Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) se-Indonesia di Kampus Universitas Lampung (Unila) di Gedongmeneng Bandar Lampung. Secara gamblang di hadapan Mendiknas Malik Fajar, Gubernur Lampung Oemarsono, Rektor Unila, Prof Muhajir Utomo, Pangdam II Sriwijaya dan pejabat sipil-militer serta dosen dan mahasiswa di Lampung itu, Wapres menyebutkan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia yang masih rendah tersebut. Human Development Index (HDI/Indeks Pembangunan Manusia) Indonesia saat ini hanya ranking ke 102 dari 162 negara di dunia. Padahal Malaysia saja ada dalam ranking ke-56 .

Bayangkan, tahun 70-an, Malaysia yang mendatangkan guru atau dosen dari Indonesia, tapi sekarang mereka sudah jauh lebih maju," kata Hamzah lagi Ranking kemampuan SDM di Indonesia yang masuk urutan ke-102 itu, ternyata pula masih kalah dengan Vietnam (urutan ke-101) "Itulah gambaran kegagalan kita selama ini yang kurang mampu membangun dengan baik dan melakukan perubahan struktural, hanya perubahan fisik semata," cetus Wapres seperti menyesalkan. (Dikutip dari Harian Kompas Rabu, 17 April 2002, 20:30 WIB Internet – Kompas Cyber Medsia , Wapres Akui Masih Rendahnya Mutu SDM di Indonesia)

Kesimpulan :
Jadi apa yang dibahas pada awal tulisan dan dengan melihat fakta yang ada, memiliki hubungan yang amat jelas dan lugas. Bahwa ketertinggalan kita selama ini disebabkan karena
sikap/perilaku masyarakatnya, yang telah dibentuk sepanjang tahun melalui kebudayaan dan pendidikan. Pendidikan memainkan peranan yang sangat sebagai bekal yang amat sangat diperlukan untuk memajukan taraf kesejahteraan dan kemakmuran Bangsa Indonesia kedepan.

Persoalan pendidikan adalah starting point yang sangat menentukan perjalanan sosok bangsa melayu dan penghuni bumi segantang lada ini kedepan. Namun yang terpenting adalah pihak Diknas mesti mempunyai visi, misi, tujuan, strategi dan analisa SWOT mengenai dunia pendidikan ini. Dari berita yang didapat dari mass media (Kompas Edisi Agustus 2001) ternyata secara nasional Departemen Pendidikan Nasional belum memiliki Rencana Strategik (RENSTRA) mengenai dunia pendidikan. Hal ini tentu sangat disayangkan sekali. Padahal kita tahu maju mundurnya suatu organisasi sangat tergantung pada “way” yang ada pada RENSTRA. Disadarai atau tidak karena RENSTRA tidak pernah dibuat tentu arah yang akan dicapai oleh pendidikan nasional yang didalamnya terkait mulai masalah pendidikan tingkat sd sampai dengan universitas akan menjadi tidak terarah dan tidak jelas tujuan yang akan dicapai. Sehingga terkesan setiap ganti menteri pasti ada perubahan policy yang dibuat. Didaerah persoalan ini juga muncul dan terjadi. Kemana arah dan kebijaksanaan pendidikan nasional yang ada di bumi segantang lada. Apa visi dan misi, bagaimana mana tujuan dan strategi yangt akan dibuat. Apa program-program dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan dunia pendididkan yang terjadi di kabupaten Kepulauan Riau.

Kemana arah dan tujuan yang akan dibuat untuk para anak-anak muda kita. Harus ada perubahan yang gradual dan siginifikan terhadap sistem pendidikan kita selama ini. Output yang dihasilkan oleh sistem pendidikan kita selama ini patut diadakan perubahan secara terencana, komprehensif dan menyeluruh.

Bagaimana Singapura atau negara-negara maju lainnya dapat memiliki SDM unggul dan berkwalitas. Mulai dari SD mereka telah memiliki standard kurikulum yang baku dan sangat fleksibel serta up-todate dengan perkembangan science dan knowledge. Guru yang mengajar adalah guru yang betul-betul berkwalitas (faktor gaji + fasilitas dan kesempatan kita anggap lebih baik dari Indonesia) dan memiliki aturan-aturan baku yang harus dijalankan dengan terarah dan sistematis. Pada saat ujian akhir untuk masuk SMP nilai baku secara nasional semacam NEM di Indonesia telah dibuat secara nasional bahwa untuk masuk SMP nilai NEM harus paling rendah 8 (tanpa kecuali). Jika seseorang memiliki NEM yang kurang dari 8 berarti yang bersangkutan sampai kapanpun tidak bisa masuk SMP dan berarti harus siap masuk pasar kerja. Untuk menambah basic keilmuan yang berhubungan dengan dunia kerja orang bersangkutan harus ikut kursus ketrampilan.

Yang berhasil masuk SMP dengan NEM diatas 8 nantinya pada saat selesai ujian pun harus memiliki persyaratan NEM 8 untuk masuk SLTA. Yang memiliki NEM kurang dari 8 yang bersangkutan sampai kapanpun tidak bisa masuk SLTA dan berarti harus siap masuk pasar kerja. Untuk menambah basic keilmuan yang berhubungan dengan dunia kerja orang bersangkutan harus ikut kursus ketrampilan. Begitu seterusnya sampai masuk universitas atau politeknik. Semuanya harus mengikuti kaidah-kaidah baku yang telah ditetapkan sehingga output dari universitas atau politeknik adalah mereka yang betul-betul berkwalitas. Yang jadi pengacara, dokter, guru, apoteker, insinyur, psikolog semuanya bermutu karena dihasilkan dari proses pembelajaran yang juga bermutu. Guru yang dihasilkan adalah guru bermutu, sehingga mereka pada saat memberikan proses pembelajaran kepada murid lebih memiliki greget dan transfer 0f knowledge menjadi lebih baik. Bahkan dijajaran pemerintah, pada level SD mereka telah memiliki team yang bekerjasama dengan guru untuk memantau murid-murid yang pintar lengkap dengan minat dan bakat, mereka diberikan beasiswa oleh pemerintah. Pada saat mereka lulus sarjana (S1, S2 dan S3) atau sarjanamuda langsung ditampung dan bekerja pada institusi pemerintah. Sangat bertentangan dan ambivalen dengan situasi yang ada pada pemerintahan kita.

Pada sisi lain kita terus melakukan kegiatan yang bersifat fisik semata, tanpa diimbangi dengan hal-hal lain yang bersifat peningkatan kwalitas guru, murid dan mutu lulusan. Setiap tahun kita hanya melahirkan dan menelorkan tamatan-tamatan ditamadun dan alaf baru ini, tanpa punya keinginan, punya harapan untuk maju. Setelah SLTA what next. Semuanya dilakukan tanpa arahan.Mau ke fakultas apa keuniversitas mana.Yang gurunya yang muridnya apalagi Diknasnya juga sepi tanpa informasi. Minimal kita bisa memberi arahan tentang peluang-peluang dan sekolah mana yang baik dan yang juga penting secara global dan makro mereka dipersiapkan jadi apa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar