Kamis, 30 April 2009

AFTER RIVATILISASI BUDAYA MELAYU ( RBM ) 2004 WHAT NEXT ?

( Penyadaran Berpikir untuk Kaum Melayu )

Pendahuluan

Perhelatan Rivatilisasi Budaya Melayu (RBM) di tahun 2004 dan RBM 2008 baru saja usai yang diselenggarakan Pemko Tanjungpinang digesa dengan tujuan yang sangat mulia, mengembangkan, mengangkat semula, menjatidirikan, mengemas kini budaya-budaya Melayu ditanahnya sendiri.

RBM sarat dengan filosofi yang sangat dalam untuk mengangkat harkat dan martabat Budaya Melayu, yang selama ini terkesan agak tenggelam ditengah arus globalisasi dan akulturasi budaya-budaya etnik dalaman dan dari luar negeri.

Coba kita dengar apa kata Menbudpar I Gede Ardika pembukaan Revitalisasi Budaya Melayu (RBM) 2004 yang dipusatkan di Senggarang, Tanjungpinang, Riau. “ Revitalisasi Budaya Melayu merupakan upaya untuk memperkokoh jati diri bangsa, sedangkan pariwisata hanyalah alat untuk melestarikannya, "Budaya melayu terbukti sejak dulu memiliki kemampuan berinterkasi dengan budaya asing seperti India, Cina namun hingga sekarang tetap eksis dengan keunikan dan kekhasannya".

Oleh karena itu, katanya, kekuatan itu harus dibangkitkan kembali dan dilanjutkan sehingga tidak tenggelam dalam arus globalisasi. Keunikan dan kekhasan budaya Melayu dapat menjadi daya tarik wisata. Namun pengembangannya bukan untuk tujuan pariwisata seperti dilakukan negara tetangga melainkan untuk memperkokoh jati diri bangsa.

Menurut dia, masyarakat Kepulauan Riau termasuk seniman dan budayawannya memiliki daya kreasi yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan kreasi tari Zapin yang identik dengan budaya Melayu maupun dalam hal berpantun.

"Seniman dan budayawannya mampu membuat seni tradisinya tidak mandek tapi penuh dinamika sehingga tari Zapin kreasi baru meski ada unsur breakdance namun tetap dilihat sebagai tari Melayu."

Sementara budaya berbalas pantun yang hidup di masyarakat dan digunakan sehari-hari dalam berbagai acara merupakan bagian dari seni budaya sastra. Ada aturan yang mencerminkan keindahan bahasa dan substansi sehingga berbalas pantun yang disampaikan secara spontan memerlukan keahlian dan ketrampilan.

Prolog ini sengaja saya hantarkan kepada kita untuk sekedar mengerti dan memaknai mengenai hakekat Revitalisasi Budaya Melayu.

Starting Point atau hanya Retorika saja ?

Perhelatan akbar itu usai sudah, yang selama beberapa hari bagi penikmat seni budaya Melayu seolah hatinya berpesta pora, inilah tontonan menarik dan unik untuk mengobati luka lama kita kepada tradisi Melayu lama. Mata dan minda kita dipertontonkan dengan tari yang lemah gemulai, dengan hentakan tarian-tarian yang kuat memikat yang yang membuat badan kitapun serasa ikut bergoyang, pertunjukan bangsawaan dan lain-lain yang merupakan warisan budaya lama Melayu.

Setelah semua anak-anak dan insan seni pewaris budaya Melayu pulang ke kampungnya masing-masing apa yang tersisa, sebuah “mimpi” indah tentang masih adanya budaya melayu itu sendiri atau hanya retorika saja penghibur lara.

Pengalaman beberapa tahun silam bahkan beberapa dekade silam sekitar tahun 1988-1990 kita pernah mengadakan acara serupa dengan “kulit” berbeda yaitu acara “Melayunologi” yang diadakan juga secara besar-besaran pada awal Bupati Kepri Bapak Abdul Manan menduduki Jabatanya. Acara yang dikemas tak kalah heboh dan menarik seperti yang dilakukan pada Revitalisasi Budaya Melayu 2004 ini (minus Kemah Budaya Asean yang diikuti 150 penegak dan penggalang pramuka dari berbagai provinsi dan negeri jiran), tapi setelah acara itu usai apa konsep yang direncanakan dan apa aplikasi yang telah dilakukan dari hasil seminar yang dihadiri oleh para pakar seni budaya ?. Apakah dengan membuat Gedung Balai Adat di Peranginan Pulau Penyengat, merehab situs-situs sejarah yang ada di Penyengat dan Ulu Riau kita telah merasa melakukan yang baik dan bagus untuk Budaya Melayu ? Toh setelah Gedung Balai Adat di Peranginan Pulau Penyengat dibangun tak ada apa-apa kegiatan yang punya nilai untuk kita warga melayu. Dibangun hanya untuk di bangun bukan untuk diapa-apakan, kita hanya bisa melihat gedung membazirkan dana semata, karena pembangunanya tidak berdasarkan konsep hanya berdasarkan keinginan ?

Apakah telah kita lakukan selama ini adalah perbuatan yang semu dan tidak memiliki konsep, karena jika ianya memiliki perencanaa dan terkonsep tentu tak perlu lagi kita melakukan acara Revitalisasi Budaya Melayu ( RBM ) 2004 ini, karena sayapun sangat takut dan kuatir jika setelah Revitalisasi Budaya Melayu ( RBM ) 2004 ini jika tak ada konsep yang jelas apa yang harus dilakukan untuk me Revitalisasi Budaya Melayu, sayapun beranggapan ini hanya retorika belaka.

Bagi saya ada yang hilang disini, ada yang harus secara konsep dan aplikasi segera kita benahi dan aplikasikan. Jika memang inilah waktu (timing) yang pantas untuk kita mulai “bergerak” dengan mengusung nama Melayu mari kita jadikan acara Revitalisasi Budaya Melayu ( RBM ) ini starting point kita untuk bangkit.

Konsepnya yang harus kita bicarakan secara arif dan matang

Didalam Rencana Strategis Kota Tanjungpinang sudah jelas diarahkan visi kota Tanjungpinang adalah “Terwujudnya Kota Tanjungpinang Sebagai Pusat Kebudayaan Melayu, Pariwisata, Industri, Perdagangan dan Pelayanan Jasa di Kawasan Riau Kepulauan pada tahun 2020”. Jelas dan konkrit sekali bahwa visi pertama yang harus diwujudkan adalah mewujudkan Kota Tanjungpinang sebagai Pusat Kebudyaan Melayu. Tapi kita lihat bagaimana cara dan upaya untuk mewujudkan Kota Tanjungpinang sebagai Pusat Kebudyaan Melayu dan bagaimana tahapan-tahapan yang akan dilakukan serta apa konsepnya ? Manajemen Strategik adalah meliputi perencanaan, pengarahan, perorganisasian, dan pengendalian keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan yang berhubungan dengan strategi suatu organisasi baik yang berorientasi profit motive maupun nirlaba. Suatu strategi merupakan rencana permainan suatu organisasi ( a company’s game plan ) . Walaupun rencana tidak secara halus merinci semua pengembangan masa yang akan datang (manusia, keuangan dan material), rencana tersebut memberikan suatu kerangka untuk keputusan manajerial.

Juga manajemen strategik berurusan dengan keputusan sekarang yang menyangkut masa yang akan datang ( futurity of current decisions ), proses dari manajemen korporat secara keseluruhan dan utilisasi sumber-sumber daya manusia.

Mari kita bicara secara runtut dan ilmiah, untuk mewujudkan visi dan misi dalam Rencana Strategik Kota Tanjungpinang tersebut apakah konsep sasaran, kebijakan, program dan kegiatan yang dilakukan telah disusun dan dibuat dengan disertai pemikiran yang matang. Kemudian kegiatan yang dilaksanakan setiap tahun anggaran itu punya kaitan dengan kegiatan tahun yang lalu dan tahun yang akan datang, karena secara simultan dan akumulatif kegiatan yang dilakukan harus mengarah pada visi Kota Tanjungpinang. Penyusunan dan pencoretan kegiatan yang dilakukan oleh Bagian Keuangan dan Bappekopun harus didasari dari proses diatas bukan asal coret dan asal memasukkan kegiatan saja.

Kembali kepada konsep kegiatan yang selayaknya dilakukan sehubungan dengan telah dilaksanakannya Revitalisasi Budaya Melayu ( RBM ) 2004 adalah bagaimana upaya kita secara sistematis dan kontiniu agar budaya-budaya Melayu yang sudah mulai pupus diterpa kemajuan akibat era globalisasi ini dapat kita bangkitkan kembali. Sebenarnya bukan acara Revitalisasi Budaya Melayu ( RBM ) 2004 itu yang bermakna tetapi bagaimana memaknainya itulah yang lebih penting. Jika kita berbaju kurung hanya pada saat acara Revitalisasi Budaya Melayu ( RBM ) 2004 ini diadakan apakah kita telah dapat dikatakan menghargai budaya Melayu.

Walikota bersama jajarannya mulai dari Bappeko sebagai “jurumudi” dari program yang akan dibuat dan Disbudpar sebagai “playmaker”nya harus memiliki sutau konsep yang jelas tentang entitas Melayu, konsep sasaran, kebijakan, program dan kegiatan betul-betul mengarah kepada Revitalisasi Budaya Melayu kedepan, jika tidak saya hakkul yakin perhelatan besar tersebut hanya macam membuang garam keluat sahaja.

Solusinya Bagaimana ?

Banyak cara dan jalan yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan me Revitalisasi Budaya Melayu dibumi Gurindam ini, jika kita sepakat konsepnya adalah mengangkat kembali harkat dan martabat Melayu dengan menjadi tuan di negerinya sendiri dengan cara-cara sbb :

a. Kembangkan Pemakaian Bahasa Melayu disemua lapisan masyarakat

Jika kita pernah memperhatikan keadaan disekeliling pada saat kita mengunjungi Kota Melaka Bandar Bersejarah kedatangan kita disambut dengan pantun yang disusun dengan tutur bahasa yang amat molek dan beretika sehingga siapa saja akan merasa “sejuk” membaca isi dan maksud pantunnya. Pesona pantun bagi orang melayu adalah pesona era jaman kegemilangan Melayu dulu, dimana untuk mengungkapkan maksud dan tujuannya orang Melayu dulu mengemasnya dalam bahasa pantun.

Bahasa Melayu Kepulauan Riau adalah merupakan bunda dari bahasa Indonesia, pernyataan ini cukup memberikan ruang kepada kita warga Riau Kepulauan bahwa memang bahasa Melayu dan Orang Melayunya cukup mendapat tempat di negara Indonesia, tapi sayangnya bahasa melayu ini bahkan jadi terpinggirkan. Jarang sekali kita melihat anak-anak muda yang aslinya Melayu mau berbahasa Melayu dengan sesama mereka adalam dialog sehari-hari. Padahal dengan ”konsep” (saya katakan bukan konsep tapi hanya ”perbuatan”) mengharuskan semua karyawan dilingkungan Pemko, Pemkab, anak-anak sekolah mulai dari SD s/d SLTA berpakaian baju kurung melayu kita seolah-olah memposisikan akan ”memelayukan” semuanya. Tapi apa hasilnya ?

Coba kita pantau bagaimana mereka berkata-kata dalam keseharian mereka. Mereka dan kita bahkan mungkin sering tidak lagi memakai bahasa Melayu yang telah melahirkan bahasa Indonesia, bahkan untuk anak-anak yang Ibu dan Bapanya asli Melayu sekalipun. Bahasa Melayu telah terpinggirkan ditanah airnya sendiri. Lain halanya jika pergi ke Jawa Tengah, Jawabarat, Jawa Timur mereka yang asli daerah tersebut bahkan pendatang akan dipaksa tetap mempergunakan bahasa ibu mereka pada saat pembicaraan sehari-hari mereka. Jadi apa dengan hanya berpakaian baju kurung melayu kita sudah memelayukan kita semua.

Untuk mewujudkan harapan yang dikandung dalam gawe besar seperti Revitalisasi Budaya Melayu kita harus punya konsep yang matang yang disertai dengan kebijakan yang mengarah pada visi yang telah dibuat. Jangan hanya menyelenggarakan sesuatu dengan Budget yang besar tetapi ”hasilnya” kosong. Selalu kita bicara hanya pada pangkalnya saja tetapi tidak pernah bicara diujungnya sampai selesai (yang nanti nanti sajalah kita pikirkan, atau dana hanya segini ya segini dululah maslah nanti nanti sajalah). Ini adalah cara yang selalu kita lakukan, jika hanya terjebak dengan pemikiran sempit dan kecil, kita juga nantinya akan menjadi bagian dari pelaku sejarah yang tak berguna bagi anak bangsa. Prinsip kita yang selama ini yang hanya pandai membelanjakan tanpa bisa berhitung dan memikirkan manfaat atas apa yang kita lakukan, siapa peduli dengan berapa dana yang telah dikeluarkan tahun ini untuk kegiatan ini, toh annti tahun depan dana akan keluar lagi. Dana APBD hanya habis untuk pos belanja investasi fisik semata (tahun ini dibangun tahun direhab dan seterusnsya) tanpa memikirkan investasi non fisik. Harusnya jika sudah beratus miliar (bahkan triliunan) dana habis untuk investasi fisik, kita sudah harus bicara untuk investasi SDM dan hal-hal non fisik lainnya.

Kembali kepada apakonsep yang sebenarnya untuk dikembangkan untuk merevatilisasi budaya melayu konsep yang dapat dikembangkan adalah sebagi berikut dengan dibuatkan skala perioritas sebagai berikut :

b. Perkampungan Melayu di Penyengat dan Kampung daerah Melayu Lainnya ditetapkan sebagai cagar budaya Tanjungpinang

Keaslian suasana melayu perkampungan Penyengat dan Kampung lainya yang asri dan punya kesan hostoris harus tetap dipertahankan. Disadari atau tidak akibat meningkatnya taraf hidup dan perekonomian masyarakat, telah terjadi juga perubahan “bentuk” asal rumah-rumah masyarakat dari rumah melayu berbentuk limas dengan arsitektur khas melayu dengan ciri bertongkat dengan dominasi kayu yang “eksotis” menjadi rumah modern kekinian dengan bahan dasar beton. Lama kelamaan jika tidak ada policy dibidang kepariwisataan yang baik dan terarah 5 tahun kedepan tidak ada lagi rumah-rumah adat melayu yang berciri khas dab berkarakter. Hilang sudah kesan “suasana” lama dan sinergi dengan tapak-tapak sejarah besar melayu yang masih banyak di seputar pulau Penyengar Indrasakti. Kalaulah 5 tahun lagi tak satupun rumah yang punya ciri khas melayu, dah tak molek lagi si Pulau Indrasakti ini, anak cucu kita takkan bisa menikmati lagi tamadun suasana melayu yang pernah jaya dimasa lampau. Realita dan fenomena ini perlu disingkapi dengan cepat dan berani. Harus dibuatkan Perda IMB yang akan mengatur agar setiap kawasan (Di Penyengat dan kawasan Melayu lainnya) setiap masyarakat yang akan membagun Ruko, Rumah Tinggal atau apapun bentuk bengunanya harus bernuansa melayu (dengan ditetapkan standardnya). Jika tidak suasana ”kemelayuan” ini akan hilang dan punah secara perlahan-lahan. Suasana dan pemandangan asli inilah yang seharusnya dijaga dan ditata untuk dijual sebagai daya penarik kepada para pelancong yang mengusung dollar ke tanah bentan ini. Jangan takut Penyengat menjadi kotor dengan bisnis yang tidak benar dan menyalahi kaidah agama. Kita ciptakan Pulau ini menjadi kawasan wisata budaya dan seni melayu, why not !

c. Festival Makanan Melayu

Makin modern gerak hidup kita, semakin berubah makanan yang kita konsumsi, padahal yang kita makan sekarang termasuk pangan kue mueh tidaklah senikmat panganan tradisional yang umumnya berbahankan bahan-bahan alami. Apakah perubahan modernisasi membuat lidah kita kehilangan “nikmat” apabila menyantap makanan tradisional. Malah-malah makanan dan kueh meuh tradisional tersebut tetap diminati samapai sekarang, cuma tidak semua orang mampu membuat dan memperolehnya baik untuk dinikmati ataupun untuk oleh-oleh juadah sebagai buah tangan. Coba kita bicara Nasi Dagang berlauk ikan tamban, sotong dan udang dengan daun pisang sebagai pembungkusnya, kue putu piring, tepung gomak, kue putri salat, belebat ubi, buah berangan dan lain sebagainya, apakah dengan mudah kita ingat bentuk dan wajahnya apatah lagi untuk dikonsumsi saat ini. Disamping sudah memang tidak populer lagi (bukan tidak nikmat untuk dimakan), banyak kalangan melayu aslipun yang tidak tahu resep untuk pembuatan kue tersebut. Kenapa hal ini tidak kita tumbuh kembangkan, dengan cara memperkenalkan lagi makanan dan kueh mueh Melayu tersebut dengan cara membuat Festival Makanan Melayu dengan mengundang seluruh komponen masayarakat Melayu yang ada di rantau ini, dan bahkan kita bisa mengundang negara-negara jiran Melayu kita (Singapore dan Malaysia) agar akan ada pengayaan bentuk dan ragam hasil yang akan diperoleh dari Festival Makanan Melayu tersebut. Tentu akan muncul kembali makanan dan kueh mueh tradisional Melayu yang sudah lama tidak muncul, sekalian kita akan bukukan resep-resepnya agar makanan dan kuek mueh Melayu tersebut dapat dilestarikan.

d. Seni tradisonal Melayu dibangkitkan (Gazal, Zapin, Bangsawan dlsbnya)

Jika kita sebagai anak jati melayu diminta bicara tentang apa saja kesenian seni musik atau seni tari yang ada tentu akan bingung menjawabnya. Apa saja kesenian tradisional yang pernah wujud di kawasan pesisir ini. Yang sering kita lihat pada saat hajatan orang kawin adalah Seni Gazal Melayu dari Pulau Penyengat itupun dapat dihitung dengan jari kehadiran mereka untuk mengisi acara seremonial dan acara perkawinan (lebih banyak diisi dengan organ tunggal). Seni Gazal Penyengat itupun hanya satu-satunya kesenian melayu tradisional yang eksis dan ada di bumi Kota Gurindam ini, bandingkan dengan seni etnis lainnya (macam Campur Sari dan Reog) yang amat banyak hadir di Kota Tanjungpinang. Harus kita pikirkan bagaimana menumbuhkan kembangkan Seni Gazal, Bangsawan dan kesenian Melayu lainnya agar dianya membumi, dikenal para anak cucu dan tidak hilang musnah dibuminya sendiri. Buat festival setiap 6 bulan sekali atau 1 tahun sekali serta kebijakan-kebijakan yang membantu untuk melestarikannya. Bayangkan jika Seni Gazal Melayu Penyengat itu tidak diregenerasikan dan dikembangk biakan dan tidak mendapat sentuhan tangan dari pemerintah. Jangan biarkan seni ini pupus tanpa sempat di berikan bantuan dan perhatian. Alangkahnya indahnya mendengar tingkah dan denting lagu-lagu Melayu Asli didendang oleh para penyanyi kru Seni Gazal Melayu Penyengat diiringi dengan alat musik tradisional lama dipaduakan dengan gitar bas modern. Pemerintah Kota (Disbudpar) harus mendorong lahirnya gazal-gazal melayu yang lain dari Kampung Bugis, Tanjungsiambang, Senggarang, Kota Piring dan kampung-kampung Melayu lainnya. Bayangkan bagaimana riuh rendahnya jika grup gazal-gazal itu bertemu dalam satu ajang festival ?

e. Anak-anak seni diberikan ruang dan waktu untuk mempertontonkan ''actionnya'' pada stage terbuka/tertutup punya Pemko atau public stage.

Saya sudah lama bicara tentang hal ini dalam buku saya ke 2 dan ke 3, bahwa kita harus segera membuat konsep tentang pertunjukan terbuka untuk insan-insan seni atau anak-anak seni di Kota Tanjungpinang dan kota-kota sekitarnya. Pertunjukan ini akan ada imbasnya terhadap sektor pariwisata jika pertunjukannya dibuat sedemikian rupa dan punya nilai jual. Akan banyak manfaat yang akan diperoleh dari pertunjukkan ini. Yang punya bakat seni akan mendapat lahan kerja (baik paruh waktu maupun tetap), yang punya usaha sanggar akan menyalurkan bakat dan talentanya dalam melatih dan tentu akan mendapatkan upahnya, turis-turis akan memiliki agenda dan kegiatan menghabiskan waktunya menonton ”show” dan tentu akan ada uang yang mengalir sesuai dengan siklusnya. Kita memang menganggap sektor wisata adalah merupakan salah satu andalan penerimaan PAD, tetapi sektor ini tidak digarap secara serius dengan melibatkan Pemko (DISPARDA), pengusaha/pelaku bisnis dan masyarakat. Secara teori ekonomi kontraksi pada sektor pengusaha, masyarakat dan para pelaku bisnis yang berkaitan dengan sektor pariwisata akan menimbulkan multiplier effect. Tarian-tarian, kesenian, produk souvenir, makanan khas tradasional melayu Riau Kepulauan akan tetap terjaga, situs-situs sejarah akan terpelihara, pengusaha sektor pariwisata akan mendapatkan income, para pekerja sektor terkait akan menerima gaji dan pada akhirnya pemda/pemko akan menerima pendapatan dari sektor pajak dan retribusi. Ini akan menambah pundi-pundi penerimaan PAD. Pemmerintah Kota setiap tahun akan membelanjakan dana yang mereka miliki (dulu rutin dan pembangunan) dan sebagian dana tersebut juga akan dbelanjakan untuk public dan dibayarkan untuk pekerja (masyarakat) dan kepada para pengusaha, sehingga jika kita lihat uangnya akan membentuk siklus sehingga terjadi pertumbuhan ekonomi yang naga-naganya adalah pada kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.

Pokok Pikiran Herry Putra SB, SE (Separuh Birokrat Separuh Enterpreneur)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar